About

Showing posts with label Jas Merah. Show all posts
Showing posts with label Jas Merah. Show all posts

Istana JP Coen dihancurkan Deandels

Friday, September 20, 2013

Salam, Ngek, Gubrak!!! - Ternyata Jakarta bukan hanya memiliki Istana
Merdeka dan Istana Negara yang masing-masing
menyatu di Jalan Veteran dan Medan Merdeka
Utara. Jauh sebelumnya, Gubernur Jendral VOC
Jan Pieterzoon Coen telah membangun sebuah
istana, meski lebih sering dikenal dengan
sebutan kastil. Sayangnya,kastil itu kini telah
tiada karena sudah dihancurkan oleh Gubernur
Jendral Deandels, ketika dia memindahkan pusat
kota ke sekitaran  Lapangan Banteng dan
Gambir. Dahulu, dalam kastil ini berdiri
bangunan seperti istana gubernur, rumah dewan
penasehat, kepala seksi, kantor pengacara,
tempat pembuatan roti, apotik, gereja dan
banyak lagi, sampai rumah untuk bersenang-
senang pun ada didalam kastil ini.
Deandels menghancurkan bangunan ini, karena
pada saat itu, bangunan ini menjadi sarang
penyakit, karena banyak kanal menjadi endapan
lumpur. Batavia pada abad ke-18, setelah terjadi
letusan Gunung Salak di Bogor, kanal-kanal
terendap lumpur, sementara rumah rumah
Belanda letaknya ditepi kanal. Akibatnya,
terjadilah wabah endemik yang membawa
penyakit mematikan. Batavia yang sebelumnya
dijuluki Ratu dari Timur berubah menjadi
kuburan Belanda.
Kemudian Deandels memindahkan pusat kota ke
arah selatan yang bernama Weltevreden yang
artinya kira kira sangat puas. Dan orang Belanda
pun ramai ramai meninggalkan kotatua
disekitaran Glodok. Welyevreden pun
berkembang setelah berbagai tempat hiburan
dibangun termasuk hotel, rumah makan dan
pertokoan.
Kastil ini dulunya terletak disekitaran tidak jauh
dari galangan kapal VOC yang kemudian menjadi
Menara Syahbadar (kini Museum Bahari).




Source: "Waktu Belanda Mabuk Lahirlah Batavia"

karya Alwi Shahab

Kwitang, Nyai Dasima dan Bang Puase

Sunday, April 28, 2013

Salam, Ngek, Gubrak!!!- Getek-getek bamboo di sungai Ciliwung tempat mandi warga, mencuci, buang hajat, dan mengambil wudhu kini sudah menghilang di Jakarta. Ciliwung tempo dulu sangat bersahabat dengan penduduk setempat. Bahkan, ikut andil dalam memberikan rezeki kepada tukang binatu yang hingga tahun 1950-an banyak kita dapati mereka mencuci pakaian di Ciliwung. Ciliwung yang mengalir dari daerah selatan di Kwitang menghubungkan Parapatan dan Pejambon. Tiap Ahad pagi, ribuan warga Jakarta mendatangi Kwitang untuk menghadiri majelis taklim di Mesjid Kwitang yang sudah berlangsung lebih satu abad. Pendiri majelis ini adalah Habib Ali Alhabsyi putra Betawi kelahiran Kwitang yang lahir 1870 dan wafat 1968. Disamping majelis taklim, dia juga membangun sekolah Islam dengan sistem kelas untuk putra dan putri. Sayang madrasah modern yang telah banyak menghasilkan para ulama Betawi sejak masa Jepang hingga kini tidak berhasil dilanjutkan oleh para penggantinya.

Kampung Kwitang juga terkenal dengan kisah Nyai Dasima yang terjadi pada 1813 di masa pemerintahan Inggris (Letnan Gubernur Thomas Raffles). Dasima, gadis dari desa Kuripan, Parung, Bogor dipelihara dan sekaligus menjadi nyai (kawin tanpa di nikahi alias selir), oleh Meneer Edward Willem yang tinggal di Pejambon.  Samiun, anak Kwitang yang menjadi kusir sado dan kerap ditumpangi sang nyai, jatuh hati. Kemudian Samiun dan Dasima saling kasmaran. Anak Kwitang ini akhirnya berhasil menikahi Nyai Dasima. G. Francis yang menulis naskah tentang Nyai Dasima dan kemudian di tulis ulang oleh seniman Betawi almarhum S.M. Ardan, digambarkan sebagai dara yang berparas cantik, berambut panjang, dan kulit kuning langsat. Sayangnya, istri pertama Samiun yang bernama Hayati begitu cemburu hingga menyuruh seorang jagoan Kwitang, Bang Puase, untuk membunuh Nyai Dasima. Dia dibunuh ketika sedang berduaan dengan suaminya, Samiun, naik sado untuk pergi ke kampung Kwitang untuk menonton “Cerita Amir Hamzah”.

Lokasi pembunuhan kira-kira di bawah jembatan Kwitang perempatan (dekat toko buku Gunung Agung dan Markas Marinir Parapatan). Kisah tragis ini telah beberapa kali difilmkan, disamping sandiwara dan sinetron. Bang Puase sendiri akhirnya di hukum pancung di Gedung Bicara (kini Museum Sejarah DKI Jalan Fatahilah 1), Jakarta Barat. Kalau sekarang kita mendatangi Kwitang, Ciliwung sudah tidak lagi bersahabat. Di samping getek-getek bamboo yang menghilang, Ciliwung kotor seperti air comberan dan tidak terbayangkan dulu warga sering berenang sambil ngebak di kali yang jernih dan dalam.

Di copy dari buku “Waktu Belanda Mabuk Lahirlah Batavia” karya Alwi Shahab

Trem Batavia

Wednesday, April 10, 2013

Salam, Ngek, Gubrak!!! - Rencana angkutan massal di Jakarta bukanlah hal baru, jakarta telah mempunyai angkutan massal dari jaman penjajahan dulu. dulu Jakarta punya angkutan massal berupa trem yang digerakkan oleh kuda dan sempat menjadi sangat digemari kala itu. Trem tenaga kuda ini bermuatan sekitar 40 penumpang, hingga pada akhirnya digantikan oleh trem tenaga uap dan listrik. Trayek trem ini dimulai dari Kota Intan yang kala itu bernama Amsterdam Poort ke Jalan Gajah Mada - Hayam Wuruk yang dimasa penjajahan dulu bernama Molenvliet dan berakhir di Harmoni. Dua bulan kemudian barulah ada penambahan trayek ke Tanah Abang, Jatinegara, Kramat dan Jalan Veteran.

Bunyi terompet pada saat itu adalah hal yang biasa, karena trem ini menggunakan terompet sebagai klakson, dan ketika ada penumpang yang akan turun, si penjual karcis membunyikan lonceng. Bukan tanpa masalah, dengan adanya trem ini, menimbulkan banyak masalah terutama soal kebersihan jalan. Karena binatang ini tidak mengenal tempat ketika membuang kotoran atau pun buang air kecil, sehingga jalan-jalan penuh dengan kotoran dan kencing kuda. Dan yang sangat mengenaskan adalah kuda-kuda sering kewalahan menarik penumpang yang jumlahnya puluhan itu. Sebuah surat kabar waktu itu pernah mengabarkan bahwa di tahun peresmian awal, yaitu tahun 1869 sampai tahun 1872 trem tenaga kuda ini mengakibatkan 545 kuda meninggal. Hal ini disebabkan karena kuda-kuda itu kelelahan.

Trem kuda ini tamat riwayatnya di jakarta sekitar tahun1881 dan digantikan oleh trem tenaga uap. Dan pada tahun 1899 kendaraan umum di Batavia didominasi oleh trem listrik yang akhirnya tamat juga riwayatnya ditahun 1960'an.


Source: buku "waktu belanda mabuk lahirlah batavia" - Alwi Shahab -